18 October 2025 · Bogor
Jembatan Cekdam di Bojongkoneng

Bogor – Jalan itu mungkin hanya beberapa ratus meter panjangnya. Jembatan yang dibangun mungkin tampak sederhana. Bibit-bibit pohon yang ditanam pun baru akan tumbuh rindang bertahun-tahun kemudian. Namun, bagi masyarakat Kampung Cekdam, Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, semua itu adalah simbol harapan—bahwa masih ada tangan-tangan yang tulus hadir untuk membangun, menguatkan, dan mengabdi.
Semangat itulah yang dibawa oleh Alumni Akademi Angkatan Laut Angkatan ke-42 Tahun 1996 "Moro Saka" melalui kegiatan Bakti Sosial yang diselenggarakan pada Sabtu 18 Oktober 2025. Tidak sekadar menjadi ajang reuni, pertemuan para alumni justru diwujudkan dalam bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat melalui bakti kesehatan, pembangunan jalan, pembangunan jembatan, serta penanaman pohon sebagai investasi bagi keberlanjutan lingkungan.
Di tengah kebersamaan tersebut hadir Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, yang menyampaikan apresiasi atas dedikasi para alumni. Menurut Kasal, nilai sejati seorang prajurit tidak hanya tercermin ketika menjalankan tugas menjaga kedaulatan negara di laut, tetapi juga ketika mampu hadir di tengah masyarakat, memahami kebutuhan mereka, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi rakyat.
Kasal menegaskan bahwa pengabdian kepada rakyat merupakan pengejawantahan dari jati diri prajurit TNI sebagaimana tertuang dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan hanya diwujudkan melalui kesiapsiagaan mempertahankan kedaulatan, tetapi juga melalui karya nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
"Seorang prajurit TNI tidak pernah berjarak dengan rakyat. Kehadiran kita di tengah masyarakat adalah bagian dari pengamalan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, yang menuntun setiap prajurit untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara dengan tulus, menjaga kehormatan, serta senantiasa menjadi pelopor dalam mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya. Apa yang dilakukan hari ini bukan sekadar membangun jalan atau jembatan, tetapi membangun harapan, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat yang akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang," ujar Kasal.
Pesan tersebut menjadi ruh dari seluruh rangkaian kegiatan. Jalan yang dibangun akan memperlancar mobilitas masyarakat dan membuka akses ekonomi yang lebih baik. Jembatan yang berdiri akan menghubungkan aktivitas warga yang selama ini terhambat. Pelayanan kesehatan menjadi wujud kepedulian terhadap kualitas hidup masyarakat, sementara penanaman pohon merupakan investasi ekologis yang kelak akan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan bahwa pembangunan sejatinya tidak hanya diukur dari berdirinya infrastruktur fisik, tetapi juga dari tumbuhnya modal sosial berupa kepedulian, gotong royong, dan rasa saling memiliki. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, kolaborasi antara unsur TNI, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan merupakan fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan wilayah yang tangguh, baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan.
Bagi keluarga besar Moro Saka, pengabdian tersebut menjadi pengingat bahwa ikatan persaudaraan yang terjalin sejak menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut tidak berhenti setelah penugasan usai. Persaudaraan itu terus hidup melalui semangat untuk memberikan manfaat bagi bangsa, menjadikan setiap pertemuan sebagai ruang untuk melanjutkan pengabdian, serta membuktikan bahwa nilai-nilai keprajuritan akan selalu relevan dalam kehidupan bermasyarakat.
Di Kampung Cekdam, pengabdian itu meninggalkan jejak yang lebih dalam daripada sekadar bangunan fisik. Ia menghadirkan optimisme, mempererat hubungan antara TNI Angkatan Laut dan rakyat, serta menegaskan bahwa kekuatan terbesar bangsa ini lahir ketika prajurit dan masyarakat berjalan berdampingan.
Karena pada akhirnya, sebagaimana semangat yang diwariskan oleh Sapta Marga, pengabdian bukanlah tentang seberapa besar yang diberikan, melainkan tentang seberapa tulus kehadiran itu membawa manfaat bagi sesama. Dan pada hari itu, Moro Saka telah membuktikan bahwa persaudaraan sejati tidak hanya dikenang, tetapi juga diwujudkan dalam karya yang menguatkan kehidupan masyarakat dan membangun masa depan Indonesia.